$16.200 lagi! BI rate sebesar 6,25% bukanlah obat mujarab bagi rupee

banner 468x60


banner 336x280

Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonom perbankan juga memperkirakan nilai tukar rupee akan terus bergerak pada level saat ini meski suku bunga acuan atau BI rate dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada April 2024.

Kepala Ekonom DBS Radhika Rao menjelaskan, rupiah akan terus berada di kisaran Rp 16.000 ketika BI rate dinaikkan karena kebijakan moneter BI yang sedikit dinaikkan bukanlah “obat mujarab” untuk memperkuat nilai tukar rupiah, melainkan hanya bersifat moderat. potensi pelemahan lebih lanjut.

Radhika Rao juga menilai, masih ada potensi dolar AS dalam jangka pendek, dimana rupee akan terus berada di kisaran Rp 16.000 hingga akhirnya turun ke Rp 15.800 per dolar AS di akhir tahun ini. Oleh karena itu, dia memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan saat ini dan berpeluang 30% untuk menaikkannya kembali jika pergerakan rupee memburuk.

“Dengan dolar yang terus menguat dalam waktu dekat, kami memperkirakan bank sentral akan tetap fokus pada stabilitas rupee, dengan intervensi tetap menjadi garis pertahanan pertama,” ujarnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan nilai tukar rupiah akan terus berada di kisaran Rp 16.000 dalam enam bulan atau dua kuartal berturut-turut, yakni pada kuartal II dan kuartal III 2024.

Rupee mencapai titik keseimbangan baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, dan potensi kebijakan moneter bank sentral AS yang mempertahankan suku bunga tetap tinggi di tengah masih tingginya tekanan inflasi.

Tim Ekonom Bank Central Asia atau BCA juga memperkirakan rupiah akan terus berada pada kisaran Rp16.000 terhadap dolar AS hingga Rp16.300 dalam waktu yang sedikit lebih lama, akibat potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed untuk mengendalikan inflasi. yang masih sulit untuk dikurangi.

Oleh karena itu, perubahan kebijakan baru-baru ini (BI rate) mungkin bukan obat mujarab bagi pelemahan nilai tukar rupee saat ini. Peluang terbaik bagi BI tampaknya adalah membiarkan pasar menemukan posisi yang lebih kuat dibandingkan dengan suku bunga The Fed. ekspektasi suku bunga, yang kini setelah berbulan-bulan telah benar-benar mengubah perilaku dovish menjadi hawkish,” ujarnya mengutip laporan kebijakan BI BCA kemarin.

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo mengatakan pihaknya juga telah menetapkan titik impas atau break even point rupiah pada kisaran Rp16.200-16.300 per dolar AS sebelum kenaikan BI rate.

“Titik impas kami sebelum kenaikan adalah Rp 16.200-16.300 per dolar AS. Saya kira hal itu mungkin saja terjadi asalkan The Fed tidak menaikkan suku bunga lagi,” kata Banjaran kepada CNBC Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel lain

Lewat BI, RI kebanjiran dolar investor di awal tahun

(lengan/aku)


Quoted From Many Source

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *